Ketua Bawaslu Kota Pasuruan Ajak Mahasiswa Jadi Benteng Literasi Digital Hadapi Kampanye Hitam
|
pasuruankota.bawaslu.go.id – Selain memperkenalkan pembelajaran digital melalui Massive Open Online Course (MOOC) Literasi Demokrasi, Ketua Bawaslu Kota Pasuruan Vita Suci Rahayu, membedah secara mendalam berbagai tantangan krusial dalam ekosistem pemilu modern. Di hadapan para mahasiswa Ilmu Administrasi Publik Universitas Yudharta Pasuruan, ia memaparkan dinamika kampanye digital yang kini telah bergeser dari sekadar pemanfaatan situs web menuju arsitektur yang jauh lebih kompleks.
Vita menjelaskan pentingnya memahami perubahan pola kampanye, mulai dari strategi penargetan mikro (microtargeting), keterlibatan akun robot (bot), penggunaan influencer, hingga koordinasi lintas platform. Ia juga menyoroti ancaman serius dari operasi pengaruh terselubung (covert influence operations) seperti astroturfing—di mana popularitas atau opini publik dimanipulasi secara semu melalui akun-akun palsu yang terkoordinasi.
Memasuki era kecerdasan artifisial (AI), Vita memperingatkan munculnya risiko baru berupa konten sintetis, seperti video atau audio palsu (deepfake). Penggunaan AI yang manipulatif ini berpotensi menipu pemilih dan menciptakan kebingungan di masyarakat, terutama jika disebarkan pada masa tenang pemilihan di saat ruang klarifikasi sangat terbatas.
"Kita harus bisa membedakan mana kampanye resmi, kampanye pihak ketiga, hingga operasi pengaruh asing. Tidak semua konten AI adalah hoaks, penilaiannya harus objektif berdasarkan atribusi, konteks, sponsor, serta ada atau tidaknya niat menipu," ungkap Vita.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguasaan forensik bukti digital dalam penanganan pelanggaran siber. Pengawas pemilu saat ini dituntut terampil dalam mengamankan standar minimum bukti digital agar sah secara hukum, mulai dari pencatatan URL/ID konten, preservasi tangkapan layar (screenshot) utuh, salinan video asli, hingga menjaga rantai penguasaan bukti agar tidak dimanipulasi.
Sebagai solusi, Bawaslu Kota Pasuruan mendorong model pencegahan dan pengawasan pemilu yang adaptif. Salah satu strategi global yang diadopsi adalah penerapan prebunking, yaitu sebuah langkah edukasi untuk mengajarkan teknik manipulasi informasi kepada masyarakat sebelum hoaks itu muncul dan viral di media sosial.
Di akhir pemaparannya, Vita mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk mengambil peran aktif sebagai perpanjangan tangan pengawasan partisipatif. Kampus diharapkan mampu menjadi benteng literasi digital dengan menanamkan kebiasaan kritis pada ruang siber, seperti selalu memeriksa keaslian sumber, kelengkapan konteks, dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi digital yang emosional sebelum membagikannya.
Humas