Tingkatkan Kesadaran Pemilih Pemula, Bawaslu Gelar Literasi Demokrasi di SMA Sabiluth Thoyyib
|
pasuruankota.bawaslu.go.id — Dalam upaya membangun kesadaran politik dan integritas pemilu sejak dini, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) menggelar kegiatan Literasi Demokrasi di SMA Sabiluth Thoyyib, Kamis (3/9/2026). Acara yang berlangsung interaktif ini diikuti oleh 71 peserta para siswa-siswi.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala SMA Sabiluth Thoyyib, Ahmad. Dalam pembukaannya, beliau menekankan betapa krusialnya pendidikan demokrasi masuk ke lingkungan sekolah guna mengukur sekaligus memperluas pemahaman para siswa tentang pemilu.
"Penting bagi seluruh siswa untuk memahami sejauh mana pengetahuan mereka mengenai pemilihan umum serta pentingnya pendidikan demokrasi sejak usia sekolah," ujar Ahmad di hadapan para peserta.
Rangkaian materi utama dibuka oleh A. Sofyan Sauri Koordiv PPPS Bawaslu Kota Pasuruan yang memaparkan mengenai pentingnya hak pilih dan konstitusi. Ia menegaskan bahwa hak pilih bukan sekadar hak politik, melainkan hak konstitusional warga negara yang harus digunakan secara bijak dan bertanggung jawab.
Selain mendapatkan pemaparan langsung, para siswa juga disuguhkan edukasi audio-visual. Melalui penayangan video interaktif, pemateri memperkenalkan secara mendalam tentang kelembagaan Bawaslu mulai dari sejarah pembentukan, tugas pokok, hingga peran strategisnya dalam mengawal pesta demokrasi yang jujur dan adil. Tak hanya itu, pemateri Akhmad Marta Affandi Koordiv HPPHM turut memberikan edukasi mengenai tata cara pengawasan partisipatif, mekanisme penggunaan hak pilih, hingga prosedur pelaporan jika menemukan dugaan pelanggaran pemilu.
Antusiasme peserta memuncak saat memasuki sesi diskusi dan tanya jawab. Sejumlah siswa tampil kritis melemparkan pertanyaan mendasar hingga isu-isu teknologis terkini seputar kepemiluan.
Ilfa, siswi kelas XII Olimpiade, menanyakan syarat dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjadi anggota Bawaslu. Sementara itu, siswa bernama Rehan menanyakan keabsahan fenomena politik uang. "Apakah seseorang yang menerima serangan fajar dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk kecurangan dalam pemilu?" tanyanya.
Isu modern tak luput dari sorotan. Siswi bernama Fani Amalia mempertanyakan kemungkinan transisi pemilu kertas menuju e-voting digital di masa depan. Di sisi lain, Giga menanyakan strategi Bawaslu dalam meredam propaganda buzzer dan penyebaran disinformasi di media sosial.
Menanggapi kekhawatiran terkait hoaks dan buzzer, Marta menjelaskan bahwa Bawaslu menerapkan penanganan berjenjang. Pihaknya juga menjalin sinergi dengan kementerian terkait untuk melakukan penindakan teknis.
"Apabila ditemukan dugaan disinformasi atau informasi yang berpotensi hoaks, penanganannya dilakukan secara berjenjang. Jika diperlukan, Bawaslu melakukan koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk verifikasi serta penanganan lebih lanjut," jelas Marta.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa SMA Sabiluth Thoyyib tidak hanya menjadi pemilih pemula yang cerdas dan kritis terhadap informasi, tetapi juga mampu mengambil peran aktif sebagai pengawas partisipatif guna mewujudkan pemilu yang demokratis dan berintegritas.
Humas Bawaslu Kota Pasuruan