Lompat ke isi utama

Berita

Bawaslu Kota Pasuruan Gelar Konsolidasi Demokrasi Bareng Aktivis Mahasiswa

Humas Bawaslu Kota Pasuruan

pasuruankota.bawaslu.go.id – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Pasuruan menggelar diskusi bertajuk "Konsolidasi Demokrasi" bersama aktivis mahasiswa dari DPC GMNI Pasuruan, Kamis (16/4/2026). Pertemuan ini menjadi ajang bedah masalah klasik pemilu: antara ancaman golput, bahaya fanatisme, hingga jeratan politik uang yang masih mengintai masyarakat.

Anggota Bawaslu Kota Pasuruan, A. Sofyan Sauri, menegaskan bahwa angka golongan putih (golput) sering kali lahir dari rasa pesimisme dan kekecewaan terhadap sistem. Namun, ia mengingatkan bahwa golput bukanlah solusi bagi masa depan bangsa.

"Golput itu bukan suatu pilihan, melainkan dampak dari kekecewaan masyarakat. Di sinilah peran mahasiswa sangat krusial untuk menyadarkan publik bahwa suksesnya pemilu bukan hanya tanggung jawab penyelenggara, tapi tanggung jawab kolektif," ujar Sofyan.

Ia juga menyoroti fenomena politik uang yang kerap dianggap "saling menguntungkan" oleh sebagian masyarakat. Berdasarkan survei, sasaran utama praktik ini adalah kelompok lansia dan masyarakat dengan kondisi ekonomi rendah. 

"Kita harus paham benang merahnya agar tidak terjebak dalam siklus yang merusak demokrasi ini," tambahnya.

Senada dengan hal itu, Ketua DPC GMNI Pasuruan melihat golput dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, ketidakpercayaan publik sering kali diperparah oleh fanatisme yang memicu propaganda berbasis ras dan agama.

"Fanatisme bisa menimbulkan propaganda berbahaya, seperti yang pernah kita lihat di kasus salah satu tokoh minoritas. Di GMNI, kami membiasakan kader melalui mekanisme Pemira (Pemilihan Raya) agar terbiasa memilih secara rasional, bukan emosional," tegasnya.

Dukungan untuk tetap menggunakan hak pilih juga datang dari para kader GMNI yang hadir. Ia berpendapat bahwa memilih jauh lebih baik daripada golput. Dengan memilih, masyarakat memberikan mandat kepada pemimpin yang memiliki otoritas untuk menghapus sekat-sekat fanatisme melalui kebijakan yang tepat.

Ketua Bawaslu Kota Pasuruan, Vita Suci Rahayu, memberikan catatan khusus bagi generasi Z. Di tengah gempuran arus informasi, Gen Z disebut sangat rentan terhadap budaya konsumtif dan hoaks.

"Saat ini, tantangannya adalah literasi. Sering kali ketika diajak sosialisasi, pertanyaannya adalah 'dapat apa?' atau 'ada manis-manisnya (uang) atau tidak?'. Pola pikir transaksional ini yang harus kita kikis," ungkap Vita.

Vita juga menyinggung pola kepatuhan di lingkungan tertentu, seperti anak pondok pesantren yang sangat patuh kepada kiai atau ustadnya. Menurutnya, edukasi demokrasi harus menyentuh seluruh lapisan dengan pendekatan yang tepat.

Menanggapi tantangan tersebut, Anggota Bawaslu Akhmad Marta Affandi melontarkan pertanyaan pemantik mengenai cara efektif menangkal hoaks. Menjawab hal itu, salah satu kader GMNI menjelaskan bahwa verifikasi sumber adalah kunci. 

"Kami melihat kredibilitas saluran atau akun media sosialnya sebelum membagikan berita. Itu cara paling dasar membedakan fakta dan hoaks," jelasnya.

Kegiatan yang berlangsung hangat ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan Bawaslu Kota Pasuruan, yakni Ketua Bawaslu Vita Suci Rahayu, didampingi dua anggotanya, A. Sofyan Sauri dan Akhmad Marta Affandi.

Melalui konsolidasi ini, Bawaslu berharap mahasiswa dapat menjadi perpanjangan tangan untuk memberikan pemahaman demokrasi yang sehat kepada masyarakat luas, sekaligus menjadi benteng pertahanan melawan politik uang dan informasi palsu menjelang kontestasi politik mendatang.

Humas